Empat Golongan Memandang Dunia

Empat Golongan Memandang Dunia

2 Golongan Beruntung dan 2 golongan Masuk Neraka

Hadits At-Tirmidzi

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR – oleh :  Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS
kelompok pertama adalah mereka yang takwa dan kaya. sebagaimana dimaksudkan dalam Alquran surah an-Nahl ayat 97. “Barang
siapa yang mengerjakan amal saleh—baik laki-laki maupun perempuan—dala keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik: dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
 
Golongan kedua adalah orang yang takwa, walaupun mereka secara materi kekurangan. Hal itu ditegaskan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 155-157.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Juga diungkapkan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 273. “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Golongan ketiga, orang yang diberikan banyak materi oleh Allah, tetapi tidak beriman kepada Allah. Kalaupun dia menjadi Muslim, bermaksiat kepada Allah. “Sesungguhnya kekayaan materinya itu bukanlah nikmat dari Allah, melainkan istidraj atau hukuman dari Allah,” tuturnya.

Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam surat al-An’am ayat 44. “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Bagaimana orang-orang beriman memandang orang-orang kafir dan Muslim
yang bermaksiat, tetapi hidupnya berkelimpahan secara materi?
“Sesungguhnya itu adalah istidraj bagi orang kafir dan orang yang suka
bermaksiat, sekaligus menjadi ujian bagi orang-orang yang beriman,”
paparnya.

Golongan keempat, kata pakar zakat dan ekonomi syariah
itu, mereka yang secara materi kekurangan, secara rohani pun mereka jauh
dari Allah. “Sudah miskin harta, miskin rohani pula,” ujarnya.

Hal ini ditegaskan dalam Alquran surah Thaha ayat 124-126: “Dan
barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Robbku, mengapa Engkau
menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah
seorang yang melihat?’. Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang
kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada
hari ini kamu pun dilupakan.'”

Kiai Didin menegaskan tugas
dunia pendidikan Islam terkait empat golongan manusia di atas. “Kita
berharap dunia pendidikan Islam melahirkan generasi Muslim yang termasuk
golongan pertama atau golongan kedua. Tentu saja, yang ideal adalah
golongan pertama: sukses dalam penguasaan materi/ekonomi dan takwa
kepada Allah. Minimal golongan kedua, walaupun secara materi ada
kekurangan, mereka tetap konsisten takwa kepada Allah,” ujar Kiai Didin menegaskan.

Play Video

Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala mengatakan, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tinggalkan Balasan